Tips Mengembangkan tulisan Non Fiksi
Setis orang memiliki momen filosofis ( philosophical moment), yakni momen yang di dalamnya ia bisa melakukan permenungan atau menghayati pengalaman filosofis. Perbedaannya hanya terletak pada intensitas penghayatan dan hasil permenungannya.
Mengapa setiap orang merenung, tentu karena ia memiliki masalah atau sesuatu yang harus dipikirkan dan direnungkan. Ia berpikir dan merenung karena punya akal dan jiwa (nafs), yang memungkinkannya untuk melahirkan pemikiran atau kebijaksanaan.
Jika ia menghayati momen filosofis dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan lahirlah hasil permenungan yang bermutu dan berbobot. Sebaliknya, jika momen filosofis dijalaninya sepintas lalu, hasilnya juga hasil permenungan sepintas lalu. Mana ada hasil lebih jika hanya dijalani secara pas-pasan, apalagi kurang?
Kata Einstein," hanya orang gila yang berharap lebih ketika memberikan upaya sedikit."
Orang yang suka merenung lazim menjadi orang yang penuh kebijaksanaan: ucapan, sikap dan perilakunya mencerminkan kebijaksanaan. Tentu, karena ia telah melampaui dirinya, melintasi kepintarannya dan menyatu dalam kebijaksanaannya. Dia sudah selesai dengan dirinya; ia ada untuk manusia lain (baik individu, komunitas, masyarakat, maupun bangsa).
Untuk menjadi pintar, syaratnya banyak belajar dan berlatih. Sementara, untuk menjadi bijaksana, syaratnya bukan hanya banyak belajar, melainkan juga banyak mengamati, menghayati, merenungkan, dan memetik hikmahnya. Semua ini hanya berlangsung dalam momen filosofis yang kondusif. Semuanya dihayatinya sungguh-sungguh.
Para filosof tentu tak terpisahkan dari momen filosofis. Itu dunianya, itu pertapaannya, dan dari sanalah hasil pemikiran dan renungan mewujud dalam berbagai bentuk. Ada ungkapan bijak yang terlisankan, ada sikap yang ditunjukkan, ada pula kumpulan gagasan yang dibukukan. Kita bukan filosof, namun kita perlu belajar pada mereka bagaimana menghayati momen folosofis.
Tentu saja ada momen-momen filosofis di seputar kita, seakan laksana sebuah kelas perguruan filsuf yang sedang dibuka. Kelas dibuka bagi siapa saja. Adakah kita memanfaatkannya dengan segenap hati? Adalah sensitivitas (kepekaan) yang membuat kita memberikan jawaban yang sesungguhnya. Di sana pula sumbernya kita akan dianggap ada.
Menurut pemapararan Bapak Khoiri membaca sama dengan menyantap makanan bergizi,pengetahuan dari membaca menambah nutrisi dalam pikiran dan hati untuk itu bacalalah buku buku bagus yang nantinya mewarnai tulisan kita jadi bagus Tentu, bagusnya buku itu relatif.kata Bapak Bukhori dan kita juga tidak memaksakan kepada seseorang untuk mengatakan suatu buku bagus kita cuma bisa merekomendasikan ,namun, kita bisa merujuk pada para ahli di bidang tertentu, guna memilih buku bagus yang direkomendasikan. Buku-buku yang kerap disebut dan disitasi di dalam buku adalah buku yang bagus. Jika tidak demikian, kita bisa memilih buku dengan membaca bagian-bagian awal dari buku tertentu, dan menilai seberapa buku itu memenuhi keingintahuan kita tentang sesuatu.
Itulah segudang tips yang diberikan Bapak Khoiri yang sudah menghasilkan ,65 buku non-fiksi dan buku fiksi serta puisi yang betul betul mengajak kita mencintai dunia literasi dengan channel YouTube nya Blantik Literasi yang diambil dari filosofi topiBlantik itu berasal dari istilah Jawa, yakni orang yang mendekat ke masyarakat pasar hewan (sapi, kambing, dsb). Biasanya memakai topi laken. Terlibat dalam transaksi, bahkan semacam mendorong petani utk membesarkan ternak2 mereka agar bisa dijual dg harga baik
Blantik Literasi diambil karena memang beliau ingin mendampingi teman2 dlm bidang literasi, belajar literasi, dan terangkat "harga"nya dlm.dunia literasi. Impian saya, teman2 menjadi pejuang2 literasi bagi bangsa ini.ulsan an terakhir Bapak Khoiri
Hari Tanggal. : Jumat 11 Juni 2021
Topik : Cara Mengembangkan Tulisan NonFiksi
Narasumber : Much Khoiri
Gelombang :18
Resume. :. 25
Komentar
Posting Komentar