Tips Mengembangkan tulisan Non Fiksi

Menulis cerita fiksi maupun NonFiksi akan terasa mudah kalau kita tau caranya.Cara mengembangkan cerita NonFiksi berbeda dengan cerita NonFiksi,untuk dapat menghasilkan tulisan non fiksi yang enak dibaca kita akan belajar dari Much Khoiri  dengan tema Cara Mengembangkan Tulisan Non Fiksi dengan mederator Ibuk Kanjeng
 Profil narasumber
MUCH. KHOIRI. Lahir di Desa Bacem, tahun 1965, Much. Khoiri kini dosen dan penulis buku dari FBS Universitas Negeri Surabaya (Unesa), trainer, editor, penggerak literasi. Alumnus International Writing Program di University of Iowa (1993) dan Summer Institute in American Studies di Chinese University of Hong Kong (1996) ini  trainer untuk berbagai pelatihan motivasi dan literasi. Ia masuk dalam buku 50 Tokoh Inspiratif Alumni Unesa (2014). Pernah menjadi Redaktur Pelaksana jurnal kebudayaan Kalimas, dan redaktur Jurnal Sastra dan Seni. Selain menghidupkan komunitas penulis, ia juga pernah mengomandani Ngaji Sastra di Pusat Bahasa Unesa. Karya-karyanya (fiksi dan nonfiksi) pernah dimuat di berbagai media cetak, jurnal, dan online—baik dalam dan luar negeri. Ia telah menerbitkan 66 judul buku tentang budaya, sastra, dan menulis kreatif—baik mandiri maupun antologi. Buku larisnya antara lain: Jejak Budaya Meretas Peradaban (2014), Rahasia TOP Menulis (2014), Pagi Pegawai Petang Pengarang (2015), Bukan Jejak Budaya (2016), Write or Die: Jangan Mati sebelum Menulis Buku (2017), Virus Emcho: Berbagi Epidemi Inspirasi (2017), Writing Is Selling (2018), SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan(Ed.Revisi, 2020), dan Kitab Kehidupan (Mei 2021). Dia sedang menyiapkan naskah buku tentang literasi, sastra, dan budaya. Emailnya: muchkhoiriunesa@gmail.com dan muchkoiri@unesa.ac.id.Facebook: https://www.facebook.com/much.khoiri.90. HP/WA: 081331450689
 Buku pertama tahun 2011 berupa fiksi, kumpulan cerpen. Buku ke 66 tahun 2021 berupa nonfiksi, berjudul "Kitan Kehidupan" (penerbit Genta Hidayah/sebuah penerbit mayor, Mei 2021)
Tahun 1986 Pak Much Khoiri sudah menulis artikel dan dimuat dikoran lokal sampai beliau lulus dan jadi dosen ,tulisan beliau tidak saja berupa karya non fiksi tapi juga cerita fiksi berupa cerpen ,essai kreatif
1993 beliau memenangkanseleksi untuk belajarmenulis kreatif di A S di university of Lowa
Dichanel YouTube Bapak M Khoiri Blantik Literasi 
Tips mengembangkan artikel,opini atau deskripsi,eksposisi supsya tidak terlihat sederhana
2 Membuat definisi suatu istilah bisa diambil dari pendapat dan kemudian diambil kesimpulan 
2 Memberikan penjelasan supaya yang gelap jadi terang 
3.Memberi contoh 
4 kasus 
5 ,kutipan dari ahlinya dan bisa ditambah anekdot atau humor
6Peribahasa bisa  juga untuk ntuk mendukung tulisan
7 Ungkapan filosofis,Agamawan budayawan 
Diantara yang ada tidak semua harus ditulis disesuaikan dengan tulisan
Momen filosofis menurut Bapak Much Khoiri

Setis orang memiliki momen filosofis ( philosophical moment), yakni momen yang di dalamnya ia bisa melakukan permenungan atau menghayati pengalaman filosofis. Perbedaannya hanya  terletak pada intensitas penghayatan dan hasil permenungannya.

Mengapa setiap orang merenung, tentu karena ia memiliki masalah atau sesuatu yang harus dipikirkan dan direnungkan. Ia berpikir dan merenung karena punya akal dan jiwa (nafs), yang memungkinkannya untuk melahirkan pemikiran atau kebijaksanaan.

Jika ia menghayati momen filosofis dengan tekun dan sungguh-sungguh, akan lahirlah hasil permenungan yang bermutu dan berbobot. Sebaliknya, jika momen filosofis dijalaninya sepintas lalu, hasilnya juga hasil permenungan sepintas lalu. Mana ada hasil lebih jika hanya dijalani secara pas-pasan, apalagi kurang?

 Kata Einstein," hanya orang gila yang berharap lebih ketika memberikan upaya sedikit."

Orang yang suka merenung lazim menjadi orang yang penuh kebijaksanaan: ucapan, sikap dan perilakunya mencerminkan kebijaksanaan. Tentu, karena ia telah melampaui dirinya, melintasi kepintarannya dan menyatu dalam kebijaksanaannya. Dia sudah selesai dengan dirinya; ia ada untuk manusia lain (baik individu, komunitas, masyarakat, maupun bangsa).

Untuk menjadi pintar, syaratnya banyak belajar dan berlatih. Sementara, untuk menjadi bijaksana, syaratnya bukan hanya banyak belajar, melainkan juga banyak mengamati, menghayati, merenungkan, dan memetik hikmahnya. Semua ini hanya berlangsung dalam momen filosofis yang kondusif. Semuanya dihayatinya sungguh-sungguh.

Para filosof tentu tak terpisahkan dari momen filosofis. Itu dunianya, itu pertapaannya, dan dari sanalah hasil pemikiran dan renungan mewujud dalam berbagai bentuk. Ada ungkapan bijak yang terlisankan, ada sikap yang ditunjukkan, ada pula kumpulan gagasan yang dibukukan. Kita bukan filosof, namun kita perlu belajar pada mereka bagaimana menghayati momen folosofis.

Tentu saja ada momen-momen filosofis di seputar kita, seakan laksana sebuah kelas  perguruan filsuf yang sedang dibuka. Kelas dibuka bagi siapa saja. Adakah kita memanfaatkannya dengan segenap hati? Adalah sensitivitas (kepekaan) yang membuat kita memberikan jawaban yang sesungguhnya. Di sana pula sumbernya kita akan dianggap ada.

Menurut pemapararan Bapak Khoiri membaca sama dengan menyantap makanan bergizi,pengetahuan dari membaca menambah nutrisi dalam pikiran dan hati untuk itu bacalalah buku buku bagus yang nantinya mewarnai tulisan kita jadi bagus Tentu, bagusnya buku itu relatif.kata Bapak Bukhori dan kita juga tidak memaksakan kepada seseorang untuk mengatakan suatu buku bagus kita cuma bisa merekomendasikan ,namun, kita bisa merujuk pada para ahli di bidang tertentu, guna memilih buku bagus yang direkomendasikan. Buku-buku yang kerap disebut dan disitasi di dalam buku adalah buku yang bagus. Jika tidak demikian, kita bisa memilih buku dengan membaca bagian-bagian awal dari buku tertentu, dan menilai seberapa buku itu memenuhi keingintahuan kita tentang sesuatu. 

Itulah segudang tips yang diberikan Bapak Khoiri yang sudah menghasilkan ,65 buku non-fiksi dan buku fiksi serta puisi yang betul betul mengajak kita mencintai dunia literasi dengan channel YouTube nya Blantik Literasi yang diambil dari filosofi topiBlantik itu berasal dari istilah Jawa, yakni orang yang mendekat ke masyarakat pasar hewan (sapi, kambing, dsb). Biasanya memakai topi laken. Terlibat dalam transaksi, bahkan semacam mendorong petani utk membesarkan ternak2 mereka agar bisa dijual dg harga baik

Blantik Literasi diambil karena memang beliau ingin mendampingi teman2 dlm bidang literasi, belajar literasi, dan terangkat "harga"nya dlm.dunia literasi. Impian saya, teman2 menjadi pejuang2 literasi bagi bangsa ini.ulsan an terakhir Bapak Khoiri

Hari Tanggal.   : Jumat 11 Juni 2021

Topik  : Cara Mengembangkan Tulisan                      NonFiksi

Narasumber : Much Khoiri

Gelombang     :18 

Resume.   :.       25

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menulis Semudah Ceplok Telor

Menulis Dikalau Sakit